TINJAUAN TEORITIS
A. Landasan Teoritis Penyakit Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah baik sistolik dan diastolic serta merupakan suatu factor terjadinya komplikasi penyakit kardiovaskuler ( Soekarsohardi, 1999 : 151 ).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolic ≥90 mmHg ( Lewis, Heitkemper, Dirksen, 2000 : 819 ).
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa : hipertensi adalah peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolic diatas normal sesuai umur dan merupakan salah satu factor resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.
Klasifikasi berdasarkan The Join National Commite on Detection Evalution and Treatment of High Blood Pesesure ( JNC, 1977 ) pada usia 18 tahun dan dewasa dibagi dalam tingkatan :
a. Normal : Sistolik < 130 mmHg, diastolic <85 mmHg
b. Hipertensi tingkat I : Sistolik 140-150 mmHg, diastolic 90-99 mmHg
c. Hipertensi tingkat II : Sistolik 160-179 mmHg,diastolic 100-109 mmHg
d. Hipertensi tingkat III : Sistolik > 180 mmHg, diastolic >110 mmHg
2. Etilogi
Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori :
a. Hipertensi primer, artinya belum diketahui penyebabnya yang jelas. Berbagai factor resiko hipertensi seperti, keturunan, jenis kelamin, umur, kegemukan, lingkungan, pekerjaan, merokok. Alcohol dan social ekonomi ( Susi Purwati, 2000 : 25 ) sekitar 90 % hipertensi tidak diketahui penyebabnya.
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal telah diketahui penyebabnya seperti stenosis arteri renalis, penyakit parenkin ginjal, koartosio aorta, hiperaldosteron, pheochromositoma, pada kehamilan dan pemakaian kontrasepsi oral.
3. Patofisiologi
Jantung adalah system pompa yang berfungsi untuk memompakan darah keseluruh tubuh, tekanan tersebut tergantung pada cardiac outputdan tekanan perifer. Pada keadaan normal untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan tubuh yang meningkat diperlukan peningkatan cardiac output. Dalam system Rennin-Angtensin-Aldosteron pada patogenesis hipertensi, glandula supra renal juga menjadi factor penyebab oleh karenafaktor hormon.
Sistem rennin mengubah angitensin menjadi angiotensis I kemudian angiotensin I menjadi angiotensin II oleh Agitensi Convertion Ensym ( ACE ).
Angiotensin II mempengaruhi Contro Nervus System dan Nervus Perifer yang mengaktifkan system simpatik dan menyebabkanretensi vaskuler perifer meningkat. Disamping itu angiotensin II mempunyai efek langsung terhadap vaskuler smoot untuk vasokonstruksi renalis. Hal tersebut merangsang adrenal untuk mengeluarkan aldosteron yang akan meningkatkan extra fluit volume melalui retensi air dan natrium. Hal ini semua akan meningkatkan tekanan darah melalui peningkatan cardiac output ( Jumlistik International Cardiovaskuler, 1999 ).
5. Tanda dan Gejala
Peningkatan tekanan darah kadang-kadang satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah komplikasi pada gilja, mata, otak atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.
6. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi seperti, penyakit jantung koroner, gagal jantung, kerusakan mata, dan kerusakan pembuluh darah otak ( Sri Rahayu, 2000 : 22-23 dan patologi penyakit jantung RSUD dr. Soetomo, 1997 ).
7. Diagnosis
Diagnisis hipertensi bertujuan untuk :
a. Mengidentifikasi penyebab hipertensi.
b. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler, beratnya penyakit serta respon pengobatan.
c. Mengidentifikasi adanya penyakit kardiovaskuler yang lain atau penyerta.
Adapun pemeriksaan penunjang tidak disarankan untuk dilakukan usaha untuk mencari etiologi kecuali didapatkan tanda yang mengarah kepada etiologi tertentu : pemeriksaan ureum, kreatinin, kalium, kalsium, urinalisis dan gula darah perlu pada pesien hipertensi.
8. Penatalaksanaan pada penderita hipertensi
Penatalaksanaan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis penatalaksanaan :
a. Penatalaksanaan non farmakologis atau perubahan
1) Berhenti merokok
2) Berhenti meminum alcohol
3) Kurangi berat badan
4) Berolah raga secara teratur
5) Pengaturan diet
Dalam merencanakan menu makanan untuk penderita hipertensi ada beberapa factor yang perlu diperhatikan yaitu keadaan berat badan, derajat hipertensi, diperlukan pengetahuan tentang jumlah kandungan natrium dalam bahan makanan. Makan biasa ( untuk orang sehat rata-rata mengandung 2800-600 mg/hari )
Untuk mengatasi tekanan darah tinggi harus selalu memonitor keadaan tekanan darah serta cara pengaturan makanan sehari-hari. Secara garis besar ada 4 (empat) macam diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan darah yaitu :
1) Diet rendah garam
Diet rendah garam pada hakekatnya merupakan diet dengan mengkonsumsi makanan tanpa garam. Garam dapur mempunyai kandungan 40 % natrium. Sumber sodium lainnya antara lain makanan yang mengandung soda kue, baking powder, MSG ( Mono Sodium Glutamat ), pengawet makanan atau natrium benzoate biasanya terdapat dalam saus, kecap, jelli, makanan yang terbuat dari mentega.
Penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalankan diet pantang garam memperhatikan hal sebagai berikut :
a) Jangan menggunakan garam dapur
b) Hindari makanan awetan seperti kecap, margarine, mentega, keju, terasi, petis, biscuit, ikan asin, sardensis, sosis dan lain-lain.
c) Hindari bahan makanan yang diolah dengan menggunakan bahan makanan tambahan atau penyedap rasa seperti saus.
d) Hindari penggunaan baking soda, atau obat-obatan yang mengandung sodium.
e) Batasi minuman yang bersoda seperti coca cola, fanta, sprite.
2) Diet rendah kolesterol / lemak
Didalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu kolesterol, trigliserida dan pospolipid. Sekitar 25 %-50 % kolesterol berasal dari makanan dapat diabsorbsi oleh tubuh sisanya akan dibuang lewat faeces. Beberapa makanan yang mengandung kolesterol tinggi yaitu daging, Jeroan, keju keras, susu, kuning telur, ginjal, kepiting, hati dan kaviar. Tujuan diet rendah kolesterol adalah menurunkan kadar kolesterol serta menurunkan berat badan bila gemuk. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengatur nutrisi pada hipertensi adalah :
a) Hindari penggunaan minyak kelapa, lemak, margarine dan mentega.
b) Batasi konsumsi daging, hati, limpa dan jenis jeroan.
c) Gunakan susu full cream.
d) Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir perminggu.
e) Lebih sering mengkonsumsi tahu,
f) Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis seperti sirup, dodol.
g) Lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.
3) Diet kalori bila kelebihan berat badan
Hipertensi tidak mengenal usia dan bentuk tubuh seseorang. Meski demikian orang yang berlebihan berat badan akan berisiko tinggi terkena hipertensi. Salah satu cara untuk menanggulanginya dengan diet rendah kalori, agar berat badannya menurun hingga normal. Dalam pengaturan nutrisi diperhatikan hal sebagai berikut :
a) Asupan kalori dikurangi sekitar 25 % dari kebutuhan energi atau 500 kalori untuk penurunan 0,5 kg berat badan perminggu.
b) Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi.
c) Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan. Contoh menu penderita hipertensi : 1 piring nasi (100 gram), 1 potong daging (50 gram), 1 mangkuk sup (130 gram), 1 potong tempe(100 gram).( Sri Rahayu, 2000 ).
b. Penatalaksanaan Farmakologi atau dengan obat.
1) Diuretik : Hidrochlorotiasid, Furosemid dan lain-lain.
2) Betabloker : Propanolol, dan lain-lain.
3) Alfa bloker : Prazosin, dan lain-lain.
4) Penghambat ACE : Kaptopril, dan lain-lain.
5) Antagonis kalsium : Diltiasem, dan lain-lain ( Farmakologi FKUI, 1995 ).
Penatalaksanaan hipertensi berdasarkan stratifikasi resiko dan pengobatan hipertensi ( table 1 )
Tabel 1
Stratifikasi resiko dan pengobatan hipertensi
| Derajat Hipertensi | Kelompok resiko A (tak ada factor resiko) tak ada kerusakan organ target. | Kelompok resiko B ( minimal 1 faktor resiko, tak termasuk diabetes, tak ada kerusakan organ target). | Kelompok resiko C ( kerusakan organ target dan atau diabetes, dengan atau tanpa factor resiko lain). |
| Normal-tinggi (130-139 / 85-89) Derajat 1 (140-159 / 90-99) Derajat 2 dan 3 ≥ 160 / ≥ 100 | Perubahan Perubahan Terapi obat. | Perubahan Perubahan Terapi obat. | Terapi obat. Terapi obat. Terapi obat. |
6) Rekomendasi pemeriksaan tekanan darah.
The Join National Commite on Detection, Evaluation and Tretment of Hight Pressure( JNC, 1997 ). Membuat rekomendasi semacam anjuran bahwa penderita hipertensi ataupun bukan hipertensi untuk memeriksakan tekanan darah dengan teratur sesuai klasifikasi hipertensi (table 2).
Tabel 2
Rekomendasi pemeriksaan tekanan darah
| Sistol | Diastol | Anjuran |
| < 130 130-139 140-159 160-179 ≥ 180 | < 85 85-89 90-99 100-109 ≥ 110 | Periksa dalam 2 tahun Periksa dalam 1 tahun Periksa minimal 2 bulan Periksa minimal 1 bulan Periksa minimal 1 minggu |
B. Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Tinjauan tentang keluarga
a. Pengertian keluarga
Terdapat beberapa pengertian keluarga menurut beberapa ahli diantaranya yaitu : Bailon dan Maglaya (1998), mengemukakan bahwa keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berorentasi satu sama lain, dan didalam peranannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. ( dalam Nasrul Effendi, 1998 :32 )
Departemen kesehatan republic
Dari beberapa definisi keluarga diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keluarga adalah :
1) Unit terkecil dari masyarakat
2) Terdiri atas dua orang atau lebuh dalam satu rumah
3) Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
4) Hidup dalam satu rumah tangga
5) Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga
6) Dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga
7) Setiap anggota keluarga mempunyai peranan masing-masing
8) Menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan.
2. Tipe / Bentuk Keluarga
Terdapat 6 tipe atau bentuk keluarga, yaitu :
a) Keluarga Inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b) Keluarga Besar (Extended Family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya kakek, nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c) Keluarga berantai (Serial Family), adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d) Keluarga duda / janda (Single Family), adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e) Keluarga berkompensasi (Compesite), adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f) Keluarga Kabitas (Cahabitation), adalah dua orang yang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
3. Struktur Keluarga
Stuktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a) Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu melalui jalur garis ayah.
b) Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c) Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d) Patrilokal
Adalah sapasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e) Keluarga Kawinan
Adlh hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
4. Ciri-ciri Stuktur Keluarga
a) Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.
b) Adanya keterbatasan
Setiap anggota keluarga memilki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugas masing-masing.
c) Adanya perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsi masing-masing.
5. Pemegang kekuasaan dalam keluarga
Didalam keluarga terdapat tiga macam system pemegang kekuasaan, yaitu:
a) Patrikal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.
b) Matrikal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
c) Equalitarian, yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah dan ibu.
6. Fungsi Keluarga
a) Fungsi biologis
1) Untuk meneruskan keturunan
2) Memelihara dan membesarkan anak
3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga
b) Fungsi Psikologis
1) Memberikan kasih saying dan rasa aman
2) Memberikan perhatiandiantara anggota
3) Membina pendewasaankepribadian anggota keluarga
4) Mendirikan identitas keluarga
- Fungsi Sosialisasi
a) Membina sosialisasi pada anak
b) Membetuk norma-norma tingkah laku dan perkembangan anak
c) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
- Fungsi Ekonomi
a) Mencari sumber-sumber penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, hari tua dan sebagainya.
- Fungsi Pendidikan
a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.
b) Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya
Ahli lain membagi fungsi keluarga sebagai berikut :
1) Fungsi pendidikan
· Mendidik dan menyekolahkan anak
· Mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa nanti.
2) Fungsi Sosialisasi
· Mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
· Membentuk norma-narma tingkah laku.
3) Fungsi Perlindungan
· Melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik.
· Setiap anggota keluarga merasa aman.
4) Fungsi Perasaan
· Merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesame anggota keluarga.
· Saling pengertian satu sama lain dalam membubuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5) Fungsi Religius
· Memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama.
· Menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan lain setelah dunia ini.
6) Fungsi Ekonomi
· Mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi yang lain.
· Kepala keluarga bekerja untuk memperoleh penghasilan.
· Mengatur penghasilan tersebut sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
7) Fungsi Rekreatif
· Tidak harus selalu pergi ketempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga.
· Rekreasi dapat dilakukan dirumah dengan cara nonton televise bersama atau bercerita tentang pengalaman masing-masing.
8) Fungsi Biologis
· Memelihara keturunrn sebagai generasi penerus.
· Memelihara dan membesarkan anak.
Dari beberapa fungsi diatas, ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya, yaitu :
1) Asih.
Adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan kebutuhan.
2) Asuh.
Adalah memenuhi kebutuhan pemeliharaan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental dan spritual.
3) Asah.
Adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, agar anak menjadi manusia dewasa yang mandir dalam mempersiapkan masa depannya.
C. Tinjauan Teoritis Tugas Perkembangan Keluarga
Menurut Duvall dan Miller adalah sebagai berikut :
Tahap 1 Pasangan Baru
Tahap ini dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
Adapun tugas dan perkembangan pada tahap iniadalah :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan.
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok social.
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak.
Tahap 2 Keluarga “ Child Bearing “ (Kelahiran anak pertama)
Tahap ini keluarga yang menanti kelahiran anak dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama berusia 30 bulan. Kehamilan dan kelahiran bayi perlu dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas perkembangan yang penting :
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan anggota keluarga : peran, interaksi, hubungan seksual dan kegiatan.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan.
Tahap 3 Keluarga dengan anak Prasekolah
Tahap ini dimulai sejak kelahiran anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan pada saat ini adalah :
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi.
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam maupun diluar keluarga.
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot).
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk simulasi dan tumbuh kembang anak.
Tahap 4 Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Adapun tugas perkembangan pada tahap ini adalah :
a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
Tahap 5 Keluarga dengan anak remaja
Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumahorang tuanya. Adapun tugas perkembangan keluarga yang harus dipenuhi adalah :
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja-remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga.
c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
d. Perubahan system peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Tahap 6 Keluarga dengan Anak Dewasa
Tahap ini dimulai saat anak yang teakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga. Adapun tugas Perkembangan keluarga yang harus dipenuhi adalah :
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Membantu orang tua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.
d. Membantu anak untuk mandiri dimasyarakat.
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
Tahap 7 Keluarga Usia Pertangahan
Tahap ini dimulai saat anan yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dirasakan sulit karena masalah lanjut usia, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Untuk mengatasi hal-hal tersebut keluarga perlu mengadakan tugas-tugas perkembangan, yaitu :
a. Mempertahankan kesehatan.
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.
c. Meningkatkan keakraban pasangan.
Tahap 8 Keluarga Lanjut Usia
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat sala satu pasangan pensiun, berlnjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas yang tidak dapat dihindari karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor tersebut adalah berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan social, kehilangan pekerjaan dan perasaan menurunnya produktivitas dan fungsi kesehatan. Adapun tugas perkembangan keluarga yang harus dipenuhi adalah :
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
b. Adaptasi dengan perubahan-kehilanhan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.
c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan social masyarakat.
2. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga.
a. Pengertian
Menurut Bailon dan Maglaya (1978), Keperawatan Kesehatan Keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana.
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan (Freeman, 1981) :
1) Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.
2) Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dikelompoknya.
3) Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan apabila satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
4) Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu (klien), keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan anggotanya.
5) Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah dalam berbagai upaya kesehatan.
Tujuan utama dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga adalah :
1) Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka sehingga dapat meringankan status kesehatan keluarganya.
2) Tujuan Khusus :
a) Meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh anggota keluarga.
b) Meningkatkan kemampuan anggota keluarga dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan para anggotanya.
c) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya.
d) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya.
e) Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya.
b. Langkah-langkah Dalam Asuhan Keperawatnan Keluarga
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan keluarga ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perawat :
1) Membina hubungan kerjasama yang baik dalam keluarga.
2) Melaksanakan pengkajian untuk menentukan adanya masalah kesehatan keluarga.
3) Menganalisa data keluarga untuk menentukan masalah-masalah kesehatan keluarga.
4) Menggolongkan masalah kesehatan keluarga, berdasarkan sifat masalah kesehatan keluarga.
5) Menetukan sifat dan luasnya masalah kesehatah keluarga untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan (dalam bentuk rumusan diagnosa keperawatan keluarga).
6) Menentukan / menyusun skala prioritas masalah kesehatan keluarga.
7) Menyusun rencana asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan urutan prioritas.
8) Melaksanakan asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan rencana yang disusun.
9) Melaksanakan evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang dilakukan.
10) Meninjau kembali masalah kesehatan yang belum dapat teratasi dan merumuskan kembali rencana asuhan keperawatan yang baru.
c. Tahapan Dalam Proses Asuhan Keperawatan Keluarga
1) Pengkajian
Adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma-norma kesehatan keluarga maupun social yang merupakan system terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya. Norma yang digunakan untuk menentukan status kesehatan keluarga adalah :
a) Keadaan kesehatan normal dari setiap anggota keluarga.
b) Keadaan rumah dan lingkungan yang membawa kepada peningkatan kesehatan.
c) Sifat keluarga, dinamikadan tingkat kemampuan keluarga yang dapat membawa kepada perkembangan keluarga dan perubahan perilaku sehat.
2. Pengumpulan Data
a) Wawancara
b) Pengamatan
c) Studi Dokumentasi
d) Pemeriksaan fisik
3. Analisa Data
a) Keadaan kesehatan yang normal dari etiap anggota keluarga.
b) Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan.
c) Karakteristik keluarga.
4. Perumusan Masalah
Dalam menyusun masalah kesehatan keluarga, seorang perawat selalu mengacukepada tipologi masalah kesehatan serta berbagai alasan darimketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga dalam bidang-bidang kesehatan.
Dari tipologi masalah kesehatan keluarga ada 3 (tiga) kelompok masalah besar, yaitu :
a) Ancaman kesehatan, yaitu keadaan-keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan.
b) Kurang / tidak sehat, yaitu kegagalan dalam memantapkan kesehatan.
c) Situasi kritis, yaitu saat-saat yang banyak menuntut individu atau keluarga dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga.
5. Prioritas Masalah
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah :
a) Tidak mungkin masalah-masalah kesehatan yang ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus.
b) Perlu mempertimbangkan masalah-masalah yang dapat mengancam kehidupan keluarga seperti masalah penyakit.
c) Perlu mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap asuhan keperawatan yang akan diberikan.
d) Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.
e) Sumber daya keluarga yangf dapat menunjang pemecahan masalah kesehatan keluarga.
f) Pengetahuan dan kebudayaan keluarga.
Tabel 3
Skala Prioritas dalam menyusun masalah kesehatan keluarga
| No | Kriteria | Nilai | Bobot |
| 1 2 3 4 | Sifat masalah Skala : a. Tidak / kurang sehat b. Ancaman kesehatan c. Kritis Kemungkinan masalah untuk diubah Skala : a. Mudah b. Sebagian c. Tidak dapat Potensi masalah dapat dicegah Skala : a. Tinggi b. Cukup c. Rendah Mononjolnya masalah Skala : a. Masalah berat, haru segera ditangani b. c. Masalah tidak dirasakan | 3 2 1 2 1 0 3 2 1 2 1 0 | 1 2 1 1 |
(Sumber Nasrul Effedi, 1998)
1. Skoring :
a. Tentukan skor untuk setiap criteria.
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot.
Skor
X bobot
Angka tertinggi
c. Jumlahkan skor untuk semua criteria.
Faktor yang mempengaruhi penentuan prioritas :
(1) Sifat masalah
(2) Kemungkinan masalah dapat diubah adalah kemungkinan keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mencegah masalah bila dilakukan intervensi keperawatan.
(3) Potensi masalah untuk dicegah : adalah sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan.
(4) Menonjolnya masalah : adalah cara keluarga meluhat danm menilai masalah dalam hal beratnya dan mendesaknya untuk diatasi melalui intervensi keperawatan.
6 Perumusan Diagnosis Keperawatan Keluarga
Diagnosis keperawatan keluarga dibuat berdasarkan masalah kesehatan yang ditemukan dan kemudian dikaitkan dengan pelaksanaan 5 (
Ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan meliputi :
a) Ketidakmampuan mengenal masalah keluarga.
b) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam mengambil tindakan yang tepat.
c) Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit.
d) Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga.
e) Ketidakmampuan menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
7) Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang ditetukan perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan yang telah diidentifikasi.
Ciri-ciri rencana keperawatan keluarga :
a) Berpusat pada tindakan-tindakan yang dapat memecahkanatau meringankan masalah yang dihadapi.
b) Merupakan hasil dari suatu proses yang sistematis dan telah dipelajari dari pikiran yang logis.
c) Rencana keperawatan keluarga berhubungan dengan masa yang akan datang.
d) Berkaitan dengan masalah kesehatan yang diidentifikasi.
e) Rencana keperawatan merupakan cara untuk mencapai tujuan.
f) Merupakan suatu proses yang berlangsung secara teru menerus.
8) Perumusan tujuan
a) Tujuan juangka panjang, ditekankan pada perubahan perilaku, dari perilaku yang merugikan kesehatan menjadi perilaku yang menguntungkan kesehatan dan mengarah pada kemampuan mandiri dalam memelihara kesehatan keluarga dan mengatasi masalahnya.
b) Tujuan jangka pendek, ditekankan pada keadaan-keadaan yang dapat dipenuhi oleh keluarga dalam waktu yang relative singkat.
9) Rencana Tindakan Keperawatan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih tindakan keperawatan :
a) Merangsang keluarga mengenal dan menerima masalan dan kebutuhan kesehatan mereka.
b) Menolong keluarga untuk menentukan tindakan keperawatan.
c) Menimbulkan kepercayaan keluarga kepada perawat.
10) Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga, didasarkan pada rencana asuhan keperawatan yang telah disusun. Kegagalan dalam memecahkan masalah keperawatan antara lain :
a. Kurangnya pengetahuan dalam bidang informasi.
b. Informasi yang diperoleh keluarga tidak menyeluruh.
c. Tidak mau menghadapi situasi.
d. Mempertahankan suatu pola tingkah laku karena kebiasaan yang melekat.
e. Adat istiadat yang berlaku.
f. Kegagalan dalam mengaitkan tindakan sesuai dengan sasaran.
g. Kurangnya percaya diri pada tindakan yang diusulkan.
11) Evaluasi
Penilaian adalah tahapyang menetukan apakah tujuan percapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan. Apabila dalam penilaian tujuan tidak tercapai, maka perlu dicari penyebabnya.Hal ini dapat terjadi karena beberapa factor :
a) Tujuan tidak realistis.
b) Tindakan keperawatan yang tidak tepat.
c)
Metode penilaian :
a) Observasi langsung.
b) Wawancara.
c) Memeriksa laporan.
d) Latihan simulasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar